Jumat, 10 Oktober 2008
Tiap langkah tak mudah kudaki
Ku jalani satu persatu hingga kini
Bukan sesaat penuh peluh mengalir
Kau hempaskanku kembali ke tanah begitu keras
Buyarkan semua imaji saat berada di awang-awang
Buatku tersungkur begitu sakit
Buyarkan semua cita ku dapat gapai di atas
Ingin ku merengkuhmu
Saat yang kau ingini bukan aku
Ingin ku lewatkan masa denganmu
Saat di benakmu bukan aku
Bagaimana kembalikan hatimu?
Bagaimana dapatkanmu kembali?
Kau membuatku begitu penat
Jalan ini teramat sulit kulalui
Bukan karena halang rintang lain
Namun hanya engkau semata
Semoga kau mengerti
(my little angel u really break my heart)
Minggu, 28 September 2008
Matahari Bisa Ngomong
Malam itu aku bercerita tentang matahari dan bulan. Danen mendengarkan dengan seksama sambil terkantuk-kantuk.
Kalau pagi matahari terbit. Matahari mendengar suara ayam berkokok terus dia bangun dari tidurnya
" Whuahhhh...sudah pagi," kata matahari.
Bulan yang sudah menerangi bumi semalaman merasa ngantuk. Terus dia memanggil matahari
"Matahari, matahari.... ayo bangun, jangan molor terus. Sekarang sudah waktunya kamu gantian yang menerangi bumi. Aku sudah ngantuk nih!" kata bulan.
Matahari menjawab, "Iya bulan, aku sudah bangun nih.....," katanya.
Belum selesai ceritaku...tahu-tahu Danen nyeletuk
"Mama ini lho, matahari kog bisa ngomong."
Huahahahaaha......
Dimana Rumah Allah?
Danen : Ma, kenapa eyang kakung dimasukin dalam tanah?”
Mama : “Iya, karena eyang kakung sudah meninggal.”
Danen : ”Meninggal itu apa sih, Ma?”
Mama : “Orang yang meninggal itu sudah pulang ke rumah Allah.”
Danen : “Ma, rumah Allah tuh dimana, sih?”
Mama : “Rumah Allah di surga.”
Danen : “Surga itu dimana, Ma?”
Mama : “Mama juga nggak tahu, Nen. Mama juga belum pernah ke sana. Surga itu ada tapi nggak kelihatan.”
Danen : “Kog nggak kelihatan sih, Ma? Dimana surganya?!
Mama : “Nggak kelihatan karena jauuuuh banget. Mungkin di luar angkasa…”
Danen : “Luar angkasa tuh mana sih, Ma?
Mama : “whaduh…???? Tolong…………………………………………………
(kapan bar tanya jawabe?)
Jumat, 26 September 2008
Sup Rasa Setup
Figo, anak ke duaku ini emang hobi banget makan. Apa saja disantapnya. Makanan favoritnya adalah mie, seperti eyang kakungnya. Sampai bude-budenya menyebut Figo sebagai "Si Raja Mie"..hehehehe.
Kala balita lain pada emoh maem sayur, dia justru menjadikan brokoli, kol, sawi, wortel, jagung, terong, sebagai cemilan. Daripada buah, dia lebih memilih cha brokoli dengan udang dan bakso. hmmm.... Hal ini agak beda dibandingkan Danendra kakaknya, yang ogah ada sayur di makanannya. Liat sayur sedikit, dia akan protes, "Buang...buang sayurnya!" Baru mau makan..
Karena melihat pengalaman pola makan Danen yang menolak sayur, dari sejak 6 bulan Figo sudah ku kenalkan dengan sayur. Sayur ku buat tim saring, blender, pokoknya di menu makan Figo selalu ada sayur. Alhamdulillah memang bocah ini hobi makan, jadi nggak ada masalah makan. Kalau liat orang lain makan, juga mesti ngiler. Meskipun sudah kenyang, ia mesti pengen lagi..Kini, untuk anak 2 tahun, ia cukup montok. Berberat 16 kg rasanya cukup "terasa" jika digendong.
Beberapa hari lalu, aku "dipenjarakan" di kamar sambil nonton Scooby Doo kesayangannya. berhubung perut keroncongan, ya akhirnya ku bawa saja makanan ke kamar. Sup dan setup pisang. Figo yang sudah mulai mengantuk tertarik melihat sup yang kubawa. Walah, sup ini sudah ku beri sambal. "Bentar ya de, ini pedes. Mama ambilin sup sendiri, ya,"kataku sambil melesat ke meja makan.
Nah, benar kekhawatiranku. Ia emang udah ga tahan. Bukan dimakan, tapi es setup pisangku dituang di sup. Waduhhh....jadilah makan malamku sup hangat ditambah dinginnya potongan es dan rasanya...waw...rame... jadi sup rasa setup....di dalam sup, ada pisangnya...hahahaha
hmmm...Figo Figo.....
Kamis, 18 September 2008
Missing Freedom
Kelimpungan ku menata hati
Dalam tanya tak berkesudahan
Mungkin aku sudah mulai tak waras
Tolong jangan dekati aku
jangan godai dan merayuku
pada tiang rapuh ku bersandar
Bisa saja ku terjatuh
Pada dirimu ku berpegang
meski kian renggang
Jangan biarkan ku terlepas
jika ku lena
kau kan kehilanganku
lepas.....
kembali ke kebebasanku
duniaku yang sesungguhnya
Jumat, 20 Juni 2008
Kerja atau Nggak, ya?
“Kalau kamu kerja, artinya kan kamu sudah bisa cari uang sendiri. Jadi aku nggak usah kasih kamu uang bulanan lagi!”
Itulah yang dikatakan suami salah seorang sahabat lamaku ketika sahabatku ini meminta izin untuk bekerja.
”Lantas kamu bilang apa?”
”Ya, aku nggak bisa bilang apa-apa. Daripada aku nggak dikasih uang bulanan, malah payah nanti,” jawabnya menahan kecewa. Ya, aku tahu bahwa ia sangat ingin bekerja. Bukan semata-mata karena faktor finansial. Namun di balik itu, tentu saja seorang perempuan membutuhkan media ekspresi, sosialisasi, networking, dan aktualisasi diri yang sepertinya sangat bisa didapatkan dari dunia kerja. Juga sebagai seorang lulusan S1 alangkah sayangnya jika ilmu yang didapat tak diaplikasikan untuk masyarakat.
Di zaman serba sulit ini, banyak orang –termasuk perempuan- yang makin pusing tujuh keliling memikirkan solusi keuangan. Salah satu cara agar dapur tetap mengepul adalah dengan dua penghasilan, alias suami istri kedua-duanya bekerja. Namun seringkali dalam banyak rumah tangga, tugas istri dimaknai dengan melayani suami dan anak. Istri tak usah lah cari uang, itu tugas suami. Pada kondisi finansial yang mapan hanya dari satu penghasilan tentu hal ini bukan masalah besar. Namun bagaimana dengan keluarga dengan kondisi keuangan pas-pasan? Tentu suami tak bisa egois menjadi pencari nafkah tunggal. Kini perempuan justru seringkali memiliki peluang kerja yang lebih besar dibandingkan laki-laki.
Ibu bekerja seringkali hidup penuh dilema. Jika bekerja, waktu tersita untuk pekerjaan. Artinya urusan anak, suami, dan rumah bisa jadi tak sepenuhnya bisa terurus. Namun secara finansial, pasti akan sangat membantu keuangan keluarga. Jika ibu tak bekerja, meskipun dapat menunggui anak dan suami sepanjang waktu, perempuan berada pada kondisi lemah secara keuangan. Taruh kata, jika suatu saat usaha sang suami bangkrut, atau sang suami meninggal. Perempuan yang terbiasa bergantung pada setoran dari suami biasanya akan kelabakan (kecuali jika telah memiliki aset yang bisa jadi sandaran hidup).
Perempuan tak bekerja juga rawan menjadi korban kekerasan ekonomi yang bisa saja dilakukan suami, bahkan tanpa disadari perempuan itu sendiri. Melarang seorang perempuan bekerja adalah termasuk salah satu bentuk kekerasan yang seringkali dilakukan suami pada pasangannya. Tentu berbeda jika seorang perempuan tidak bekerja karena pilihan hati nuraninya sendiri tanpa adanya paksaan atau ancaman dari pihak lain.
in my sight:
Bekerja atau tidak? Itu masalah pilihan dan kebutuhan hidup.
Ketika seorang suami melarang istrinya bekerja, tak ada salahnya cari tahu apa penyebab mengapa ia melarang istrinya bekerja. Bisa jadi karena alasan tak ingin anak dan dirinya tak terurus karena sang istri sibuk kerja. Bisa juga karena sudah merasa mampu membiayai keluarga. Namun ada juga suami yang melarang istrinya bekerja karena cemburu pada laki-laki lain yang ada di (calon) tempat kerja istrinya.
Jika memang tetap ingin bekerja, tak ada salahnya untuk dikompromikan. Tunjukkan pada suami Anda bahwa Anda tak akan mengabaikan keluarga.
Jika memang dilarang suami bekerja, carilah celah untuk mengamankan kondisi finansial. Sehingga jika terjadi suatu hal yang tak diinginkan pada suami, keluarga tak terlalu ‘jatuh’ secara finansial. Caranya antara lain adalah dengan membangun aset sedini mungkin, misalnya dengan berinvestasi properti, saham, memiliki perlindungan asuransi, dll.
Kini banyak pilihan pekerjaan yang memungkinkan seorang perempuan tetap berhasil dalam kehidupan berkeluarga dan karier, misalnya dengan bekerja part time. Meskipun mungkin karier tak selapang orang lain yang bekerja full time, namun keleluasaan waktu juga memberikan keluangan untuk tetap mengawasi tumbuh kembang anak sebaik-baiknya. Tak hanya itu, ada waktu luang untuk bersenang-senang yang bisa didapatkan oleh perempuan bekerja part time, misalnya tetap sempat jalan ke mall, ke gym, arisan, dan seabrek kegiatan sosial lainnya.
Untukku sekarang sebagai seorang ibu yang bekerja, ku tak lagi berorientasi pada status karier, namun pada apa yang kita capai. Berhitunglah dengan ”what you lose and what you get”. Ketika suatu pekerjaan dapat memberikan kelonggaran waktu dan finansial yang memadai, why not. Take it! Tapi jika memang mau bekerja full time, pilihlah perusahaan yang family friendly alias nggak saklek. Maklum seorang ibu kadang mesti mengantar jemput anak sekolah, ambil raport, mengantar anak ke dokter, kadang mesti bolos karena anak sakit.
Well, tergantung prioritas apa yang ada di benak kita. Karier atau keluarga?
Danen dan botol pembersih budhe
Mama : "Nggak dibawa pulang, Nen. Kan sudah habis," jawab mama sambil memegangi botol bekas pembersih muka yang dimaksud Danen.
Danen : "Kalo habis kenapa kog nggak dibuang di tong sampah? Memangnya di Jakarta nggak ada tong sampah ya?"
Mama : ????